Menyelami makna di balik tiap peribahasa.
Pelajari jenis, makna, dan seluk-beluk peribahasa Indonesia secara interaktif, lalu uji kesiapanmu lewat latihan soal bergaya lomba tingkat nasional. Kini dilengkapi materi ejaan EYD Edisi V.
Kamus interaktif
Cari dan saring peribahasa berdasarkan jenis atau tema, lalu balik kartunya untuk mengecek maknanya — cocok untuk menghafal sambil bermain.
Soal gaya kompetisi
Latihan disusun mengikuti pola soal lomba bahasa Indonesia: ilustrasi cerita, soal rumpang, hingga soal analisis makna yang menuntut ketelitian.
Umpan balik instan
Setiap jawaban langsung diperiksa lengkap dengan pembahasan, jadi kamu tahu persis di mana letak jebakan soalnya.
Materi EYD Edisi V
Kaidah huruf, penulisan kata, tanda baca, dan serapan lengkap dengan karakter tiap kaidah, jebakan lomba, dan kartu kata baku.
—
Kupas tuntas seluk-beluk peribahasa
Dari definisi dasar sampai kamus lengkap yang bisa kamu jelajahi sendiri — semuanya disusun untuk membangun pemahaman yang benar-benar melekat, bukan sekadar hafalan.
Apa itu peribahasa?
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang bentuk, susunan, dan maknanya sudah baku serta turun-temurun dipakai dalam masyarakat. Meski tersusun dari kata-kata yang ringkas, peribahasa menyimpan makna kiasan (konotatif) yang tidak bisa ditangkap hanya dengan membaca artinya kata demi kata. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cakupan istilah "peribahasa" ini cukup luas — ia menjadi payung bagi bidal, pepatah, perumpamaan, ibarat, dan ungkapan sekaligus.
Fungsinya pun beragam: sebagai penghias tuturan, penguat maksud pembicaraan, sarana memberi nasihat secara halus, hingga cermin nilai dan cara pandang masyarakat pada masanya.
Ciri-ciri umum peribahasa
- Bentuknya tetap dan baku — susunan katanya tidak bisa diubah atau disisipi kata lain.
- Maknanya kiasan (konotatif), bukan makna harfiah kata per kata.
- Diwariskan turun-temurun dan sudah dikenal luas oleh penutur bahasa Indonesia.
- Sering memakai unsur alam, hewan, atau benda sehari-hari sebagai kiasan.
- Padat dan ringkas, namun sarat makna serta nilai kehidupan.
Ringkasan enam jenis peribahasa
| Jenis | Ciri utama | Kata penanda | Contoh singkat |
|---|---|---|---|
| Pepatah | Kalimat lengkap berisi nasihat orang tua-tua | umumnya tanpa penanda khusus | Rajin pangkal pandai |
| Perumpamaan | Perbandingan sifat manusia dengan alam/benda | seperti, bagai, laksana, bak | Bagai katak dalam tempurung |
| Ibarat / Tamsil | Kiasan yang menegaskan makna secara hidup | ibarat, sering tanpa penanda perbandingan | Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi |
| Bidal / Pameo | Sindiran, ejekan, atau peringatan singkat | tidak baku | Malu bertanya sesat di jalan |
| Ungkapan | Frasa pendek (2–4 kata), bukan kalimat utuh | tidak baku | Kambing hitam |
| Semboyan | Moto singkat pengobar semangat | tidak baku | Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh |
Asal-usul dan fungsi peribahasa
Peribahasa lahir dari tradisi tutur masyarakat Nusantara zaman dahulu, terutama masyarakat Melayu, yang terbiasa menyampaikan nasihat, sindiran, maupun ajaran hidup lewat kiasan alih-alih perkataan langsung. Kebiasaan ini erat kaitannya dengan sastra lisan lama — pantun, syair, dan cerita rakyat — yang juga banyak menyisipkan kiasan tentang alam, hewan, serta kebiasaan sehari-hari. Karena diwariskan dari mulut ke mulut selama bergenerasi, bentuk peribahasa lambat laun mengendap menjadi baku dan dikenal luas seperti yang kita pelajari sekarang.
Di luar fungsi dasarnya sebagai penghias bahasa, peribahasa memiliki beberapa peran penting lain:
- Sebagai alat pendidikan karakter — menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan kerendahan hati secara halus tanpa menggurui.
- Sebagai sarana menyindir secara sopan — menyampaikan teguran atau kritik tanpa menyakiti perasaan secara langsung.
- Sebagai cermin cara pandang masyarakat lama — merekam bagaimana nenek moyang memaknai alam, hubungan sosial, dan kekuasaan.
- Sebagai penguat retorika — memperkuat argumen dalam pidato, tulisan, maupun karya sastra agar lebih berkesan dan mudah diingat.
Peribahasa, ungkapan, dan majas — jangan sampai tertukar
Ketiga istilah ini sama-sama bersifat kiasan, sehingga sering dianggap sama padahal berbeda cakupannya. Berikut pembedanya secara ringkas:
| Istilah | Cakupan | Contoh |
|---|---|---|
| Peribahasa | Istilah payung; kalimat atau frasa baku yang mengiaskan maksud tertentu — mencakup pepatah, bidal, perumpamaan, ibarat, dan ungkapan sekaligus | Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian |
| Ungkapan (idiom) | Bagian dari peribahasa; khusus frasa pendek (2–4 kata) yang maknanya sudah baku dan tidak bisa ditebak dari kata-kata penyusunnya | Kambing hitam, naik daun |
| Majas | Bukan bagian dari peribahasa; gaya bahasa bebas yang bisa dibuat siapa saja secara spontan untuk memperindah kalimat (metafora, personifikasi, hiperbola, dll.) | "Wajahnya secantik bulan purnama" (majas simile/perumpamaan bebas) |
Unsur yang sering dipakai sebagai kiasan
Peribahasa Indonesia banyak mengambil kiasan dari benda dan makhluk yang akrab dengan kehidupan masyarakat lama. Mengenali pola ini membantumu menebak makna peribahasa yang belum pernah kamu dengar sebelumnya.
- Unsur hewan — katak, harimau, gajah, kambing, tupai, dan puluhan hewan lain umum dipakai untuk menggambarkan watak manusia, misalnya "bagai katak dalam tempurung" atau "musang berbulu domba".
- Unsur alam — air, gunung, laut, angin, dan bintang sering melambangkan keadaan hidup, seperti "sedia payung sebelum hujan" atau "badai pasti berlalu".
- Unsur anggota tubuh — tangan, kepala, hati, mulut, dan lidah kerap dipakai dalam ungkapan watak, misalnya "panjang tangan" atau "besar kepala".
- Unsur benda & aktivitas sehari-hari — periuk, rotan, tiang, hingga kegiatan menjala atau menanam juga lazim dijadikan kiasan, seperti "besar pasak daripada tiang".
Ingin menggali lebih dalam? Beberapa rujukan terpercaya berikut bisa membantumu memperkaya pemahaman soal peribahasa dan bahasa Indonesia secara umum.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Rujukan kaidah ejaan terbaru: huruf, penulisan kata, tanda baca, angka, dan serapan — lengkap dengan karakter tiap kaidah dan jebakan yang sering muncul di soal lomba.
Apa itu EYD Edisi V?
EYD Edisi V adalah pedoman ejaan resmi bahasa Indonesia hasil pemutakhiran PUEBI, diluncurkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2022. Ia memuat penambahan kaidah baru dan perubahan kaidah lama yang disesuaikan dengan perkembangan bahasa, serta tersedia dalam bentuk aplikasi web.
Peta isi pedoman
- Pemakaian huruf — abjad, vokal, konsonan, diftong, monoftong, huruf kapital, huruf miring, huruf tebal.
- Penulisan kata — kata turunan, bentuk ulang, gabungan kata, pemenggalan, kata depan, partikel, singkatan, angka, kata ganti, kata sandang.
- Pemakaian tanda baca — titik, koma, titik koma, titik dua, hubung, pisah, tanya, seru, elipsis, petik, kurung, garis miring, apostrof.
- Unsur serapan — penyesuaian huruf dan pola serapan.
Cara memakai bagian ini
- Mulai dari Kaidah Lengkap: tiap kaidah dibagi menjadi butir aturan, contoh, dan jebakan lomba.
- Uji hafalan bentuk baku lewat Kartu Kata Baku (klik kartu untuk membalik).
- Kerjakan Latihan → EYD V · HOTS untuk melatih analisis cepat.
Sumber belajar EYD
Uji kesiapanmu menghadapi soal lomba
Pilih tingkat kesulitan atau mode EYD, lalu jawab soal pilihan ganda yang dirancang meniru gaya soal cerdas cermat dan olimpiade bahasa Indonesia.
Tingkat Menengah
Peribahasa populer dalam bentuk skenario cerita singkat — cocok untuk pemanasan dan mengukur pemahaman dasar.
Tingkat Lomba Nasional
Peribahasa jarang dipakai, soal rumpang, analisis perbandingan makna, hingga jebakan klasik — level sesungguhnya untuk lomba.
Ejaan EYD Edisi V
Soal analisis cepat: kapital, tanda baca, kata depan, angka, pemenggalan, kata baku, dan revisi teks bergaya lomba provinsi.